Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Posted by rinda on Sep 28, '10 10:36 AM for everyone
Dulu aku alergi terhadap panggilan-panggilan lain semacam Kakak, Teteh, Uni, dan sebagainya. "Mbak saja, ya..." pintaku, "Aku nggak biasa disebut begitu." Hanya faktor kebiasaan selalu menjadi alasan, padahal mungkin ada hal-hal lain yang kuabaikan. 

Hei, bukankah ini hanya hal sepele yang disebut panggilan? Mungkin memang tidak sesepele itu, karena memang panggilan bisa membuat orang merasa disayang, bisa pula membuat orang merasa direndahkan. Tapi apa iya seserius itukah sampai aku merasa aneh dengan panggilan-panggilan yang sebenarnya memiliki arti sama -- hanya asal bahasanya saja yang berbeda? Pertanyaan itu aku abaikan, hingga akhirnya aku sendiri yang terbentur permintaan serupa.

Aku sering keceplosan memanggil Mbak atau Mas hampir kepada semua orang, terutama yang baru kukenal. Kali ini benar-benar karena kebiasaan. Ketika berbicara maupun menulis, kedua panggilan itu seperti melekat di otak dan otomatis mengalir ke lidah atau tangan sehingga seringkali aku baru menyadari adanya kesalahan ketika sudah terlambat. Mungkin memang itulah arti bahasa ibu, bahasa yang melekat dan keluar dengan sendirinya seperti sebuah refleks. Sekali dua kali, memang aman saja. Hingga akhirnya ada saja yang protes karena kebiasaan yang tak terkontrol itu. "Teteh saja, jangan Mbak." Di lain tempat, "Panggil nama saja nggak usah pake Mas." Di lain waktu, "Jangan Mbak dong, jadi aneh rasanya." Di lain kesempatan, "Tolong panggil Uni saja." Oh, betapa susahnya mengatur lidah. 

Satu dua penolakan mungkin memang biasa terjadi. Namun, ternyata penolakan luar biasa bisa juga mampir di mari. "Tolong langsung nama saja. Orang yang memanggil dengan embel-embel itu biasanya minta dihormati, bukan karena menghormati orang lain. Embel-embel itu kebiasaan feodal." Aku terpana, hatiku serasa tertancap pasak lasak. Benarkah aku begitu? Benarkah aku meminta dihormati dengan memberikan kepada orang lain panggilan-panggilan yang kuanggap terbaik? Apakah aku sakit hati kalau ada orang lain memanggilku begitu saja, tak peduli 'Mbak' seperti yang kuminta, tak pula memandang usia? 

Tiba-tiba aku ingat nasihat almarhum ibu guruku tercinta, yang mengajariku membaca dan menulis, yang membuatku mengerti angka-angka, pun mengenal khasanah bahasa dan budaya daerah, "Kita tidak seperti orang barat yang memanggil orang tuanya dengan nama saja, tanpa ada penghormatan sama sekali. Orang tua harus dihormati. Yang usianya lebih muda harus menghormati yang lebih tua. Kita harus menghormati orang lain." Wejangan itu aku pegang baik-baik, aku tanamkan di dada, dan berusaha aku jalankan sepanjang hidupku. Lalu tiba-tiba seperti ada yang menampar dan menyadarkanku bahwa penghormatan itu relatif bentuknya. Yang kita anggap baik belum tentu baik untuk orang lain. Penghormatan itu adalah memanggil orang dengan panggilan terbaik, terbaik sesuai versi orang yang kita panggil, bukan versi kita. Tapi apakah aku meminta penghormatan balik setelah memberikan panggilan terbaik yang bisa kuberikan? Tidak! Aku tidak mau seperti itu. Aku tidak ingin memberikan penghormatan tanpa keikhlasan. Lalu, apa benar adat dan budaya yang kuhormati dan kutaati adalah kebiasaan feodal? Untuk menghormati pemimpin, menghormati orang tua, juga menghormati orang lain itu tak harus menganut paham feodalisme terlebih dahulu, bukan? 

Berkat penolakan keras yang sempat merawankan hati, aku pun membebaskan diri dari panggilan spesial seperti yang dulu pernah kuminta. Silakan panggil aku apa saja karena aku ingin memberikan penghormatan secara ikhlas, tak usah berbalas. Hanya anakku atau orang-orang yang di bawah didikanku saja yang harus memanggilku sesuai yang kupinta.

***

Catatan: 
Kisah ini berusaha dituturkan sebaik-baiknya. Kalau ada ketidaksamaan perkataan, mohon dimaafkan karena kealpaan serta tidak baiknya daya ingat penulis, bukan dimaksudkan untuk kebohongan. Tidak dimaksudkan juga untuk menyindir atau menyakiti pihak mana pun, lebih ditujukan untuk bisa memperbaiki pribadi penulis sendiri.


==============================
Diikutkan dalam lombanya Mbak Lessy.

23 CommentsChronological   Reverse   Threaded
tantodikdik wrote on Sep 29, '10
sepakat tuh, Mbak. menyesuaikan saja :D
semoga menang lomba :D
alittlethingmeanalot wrote on Sep 29, '10
sama... (lagi)..
dulu pas di bandung, pernah protes ketika ada yang manggil Mbak .. :p, maunya dipanggil nama atau Teteh ^__^
soalnya gak biasa dan serasa jengah..
sekarang sudah biasa dipanggil Mbak, apalagi sejak bersuamikan orang Jawa tulen. Sama adik ipar kan dipanggilnya Mbak ..

*hihihihi malah curhat ...
ah Mbak, kenapa banyak yang samaaaaaaa yaaaaaa :)
evanda2 wrote on Sep 29, '10
aku jg terbiasa untuk memanggil orang yang baru kukenal dengan mas/mbak .. ikhlas, karena aku ingin dekat dengan mereka. Sedangkan aku pun membebaskan siapapun memanggil aku semau mereka, sepanjang mereka nyaman , asal jangan di panggil nenek aja.. hehehehe (soalnya blm punya cucu)
trewelu wrote on Sep 29, '10
relaaaa, ini ngebut biar nggak keduluan rela.... hihihihi maaf yaaa....
aghnellia wrote on Sep 29, '10
trewelu said
Silakan panggil aku apa saja karena aku ingin memberikan penghormatan secara ikhlas, tak usah berbalas. Hanya anakku atau orang-orang yang di bawah didikanku saja yang harus memanggilku sesuai yang kupinta.
jadi-nya pengen dipanggil apa nih Mas? *loh* :))
ariepunya wrote on Sep 29, '10
ku pernah ketemu org indo di sini,waktu itu aku sapa 'mbak..' eh dianya protes..'panggil ibu saja ya...suami saya manager soalnya....'..gubraks*
fefabiola wrote on Sep 29, '10
tepuk tangan dulu aahh...
kayaknya pemenang tulisan terbanyak udah ketahuan nih: ibuuuk! :D
bunda2f wrote on Sep 29, '10
aku dulu terbiasa nyaman dipanggil mba
tapi sekarang sejak makin ketemu beragam orang,
mulai terbiasa deh dipanggil teteh, bu, kakak, dsb
cuma merasa asing aja kalo dipanggil sis, itu aja yg aku gak suka
alittlethingmeanalot wrote on Sep 29, '10
tepuk tangan dulu aahh...
kayaknya pemenang tulisan terbanyak udah ketahuan nih: ibuuuk! :D
aaah mauuu jugaaaaaaaaaaaa....

mentox ide :p
alittlethingmeanalot wrote on Sep 29, '10
trewelu said
relaaaa, ini ngebut biar nggak keduluan rela.... hihihihi maaf yaaa....
hihihihihi seruuu jadinya ..

si aku yang lemot bin lelet, kayaknya mbak rinda gak ngebut juga udah kalah duluan :p
hadainasadida wrote on Sep 29, '10
Pas masuk kantor agak jengah pas dipanggil "ibu" sama bapak yanh lebih tua..
Soalnya bapak2nya hampir seumuran papapku ;p..
Sekarang kalo sama yang udah senior seringnya dipanggil "mbak" juga
ceuosi wrote on Sep 29, '10
baiklah kalau begitu ..mbak Rinda...:D
fefabiola wrote on Sep 29, '10
eh iya, aku manggil ibuk boleh kaaan? ;)
myshant wrote on Sep 29, '10
mb Rinda boleh manggil aku apa aja ...hehehehe
aku tuh malah agak rikuh kalau disuruh langsung manggil nama :)
adearin wrote on Sep 29, '10
kl sy panggil '''mbak'', keberatan gak mbk rinda?
:)
lombaya smp kpn nih mbk?
miapiyik wrote on Sep 29, '10
eh Rinda, tp orang bule masih banyak koq yg panggil Papa Mama, bukan nama saja ke ortunya...
ikkens wrote on Sep 29, '10
ku pernah ketemu org indo di sini,waktu itu aku sapa 'mbak..' eh dianya protes..'panggil ibu saja ya...suami saya manager soalnya....'..gubraks*
ini baru lucu mencengangkan, salam kenal mbak.. hihi
ikkens wrote on Sep 29, '10
aku juga gitu, biasanya manggil Mbak ke orang yang baru kukenal,
malah kebawa2 terus...bahkan walopun sebenernya mereka itu jauh lebih muda dariku *kan suaminya lbh tua dariku.. hihi
niwanda wrote on Sep 29, '10
Kemarin barusan diskusi sama suami soal hal ini, Mbak... Yah, intinya sempat nggak nyaman dengan kebiasaan beberapa adik angkatan di kantor yang manggil langsung nama, padahal sesama orang Jawa. Tapi kembali lagi ya, kalau kita nuntut begitu kok rasanya kayak kita ini siapa aja....
fendikristin wrote on Sep 30, '10
sama Mbak..aku juga selalu manggil orang yang baru kukenal dengan Mbak atau Mas walaupun ternyata ketauan lebih muda hihihi *jadi maluu*
trewelu wrote on Oct 1, '10
boleh panggil mas, tapi sambil bawa setoran emas2an yak... $))
trewelu wrote on Oct 1, '10
:D memang mbak, satu sample yang diambil belum tentu mencerminkan keseluruhan... itu salah satu akar dari xenophobia...
trewelu wrote on Oct 9, '10
@all: tambah lagi ding requestnya, panggil saya sesuai gender saya ya... hehehe. terima kasih untuk apresiasi dan bagi pengalamannya...

@mbak maya: kalo di sini sama temen2 pengajian (bukan pengajian ibu2 indonesia) ya sister2an mbak, jadi saya kebiasa juga...

@mbak leila: kalau menganut budaya yang sama, terus yang satu menggabungkan budaya itu dengan budaya lain memang kadang bikin gatel...
Add a Comment