Dulu aku alergi terhadap panggilan-panggilan lain semacam Kakak, Teteh, Uni, dan sebagainya. "Mbak saja, ya..." pintaku, "Aku nggak biasa disebut begitu." Hanya faktor kebiasaan selalu menjadi alasan, padahal mungkin ada hal-hal lain yang kuabaikan.
Hei, bukankah ini hanya hal sepele yang disebut panggilan? Mungkin memang tidak sesepele itu, karena memang panggilan bisa membuat orang merasa disayang, bisa pula membuat orang merasa direndahkan. Tapi apa iya seserius itukah sampai aku merasa aneh dengan panggilan-panggilan yang sebenarnya memiliki arti sama -- hanya asal bahasanya saja yang berbeda? Pertanyaan itu aku abaikan, hingga akhirnya aku sendiri yang terbentur permintaan serupa.
Aku sering keceplosan memanggil Mbak atau Mas hampir kepada semua orang, terutama yang baru kukenal. Kali ini benar-benar karena kebiasaan. Ketika berbicara maupun menulis, kedua panggilan itu seperti melekat di otak dan otomatis mengalir ke lidah atau tangan sehingga seringkali aku baru menyadari adanya kesalahan ketika sudah terlambat. Mungkin memang itulah arti bahasa ibu, bahasa yang melekat dan keluar dengan sendirinya seperti sebuah refleks. Sekali dua kali, memang aman saja. Hingga akhirnya ada saja yang protes karena kebiasaan yang tak terkontrol itu. "Teteh saja, jangan Mbak." Di lain tempat, "Panggil nama saja nggak usah pake Mas." Di lain waktu, "Jangan Mbak dong, jadi aneh rasanya." Di lain kesempatan, "Tolong panggil Uni saja." Oh, betapa susahnya mengatur lidah.
Satu dua penolakan mungkin memang biasa terjadi. Namun, ternyata penolakan luar biasa bisa juga mampir di mari. "Tolong langsung nama saja. Orang yang memanggil dengan embel-embel itu biasanya minta dihormati, bukan karena menghormati orang lain. Embel-embel itu kebiasaan feodal." Aku terpana, hatiku serasa tertancap pasak lasak. Benarkah aku begitu? Benarkah aku meminta dihormati dengan memberikan kepada orang lain panggilan-panggilan yang kuanggap terbaik? Apakah aku sakit hati kalau ada orang lain memanggilku begitu saja, tak peduli 'Mbak' seperti yang kuminta, tak pula memandang usia?
Tiba-tiba aku ingat nasihat almarhum ibu guruku tercinta, yang mengajariku membaca dan menulis, yang membuatku mengerti angka-angka, pun mengenal khasanah bahasa dan budaya daerah, "Kita tidak seperti orang barat yang memanggil orang tuanya dengan nama saja, tanpa ada penghormatan sama sekali. Orang tua harus dihormati. Yang usianya lebih muda harus menghormati yang lebih tua. Kita harus menghormati orang lain." Wejangan itu aku pegang baik-baik, aku tanamkan di dada, dan berusaha aku jalankan sepanjang hidupku. Lalu tiba-tiba seperti ada yang menampar dan menyadarkanku bahwa penghormatan itu relatif bentuknya. Yang kita anggap baik belum tentu baik untuk orang lain. Penghormatan itu adalah memanggil orang dengan panggilan terbaik, terbaik sesuai versi orang yang kita panggil, bukan versi kita. Tapi apakah aku meminta penghormatan balik setelah memberikan panggilan terbaik yang bisa kuberikan? Tidak! Aku tidak mau seperti itu. Aku tidak ingin memberikan penghormatan tanpa keikhlasan. Lalu, apa benar adat dan budaya yang kuhormati dan kutaati adalah kebiasaan feodal? Untuk menghormati pemimpin, menghormati orang tua, juga menghormati orang lain itu tak harus menganut paham feodalisme terlebih dahulu, bukan?
Berkat penolakan keras yang sempat merawankan hati, aku pun membebaskan diri dari panggilan spesial seperti yang dulu pernah kuminta. Silakan panggil aku apa saja karena aku ingin memberikan penghormatan secara ikhlas, tak usah berbalas. Hanya anakku atau orang-orang yang di bawah didikanku saja yang harus memanggilku sesuai yang kupinta.
***
Catatan:
Kisah ini berusaha dituturkan sebaik-baiknya. Kalau ada ketidaksamaan perkataan, mohon dimaafkan karena kealpaan serta tidak baiknya daya ingat penulis, bukan dimaksudkan untuk kebohongan. Tidak dimaksudkan juga untuk menyindir atau menyakiti pihak mana pun, lebih ditujukan untuk bisa memperbaiki pribadi penulis sendiri.
==============================